Menjadi Bangsa Yang Mandiri Bersama BioFuel

Standard

Menjadi Bangsa Yang Mandiri Bersama BioFuel

 

 

BY : Rahma Dewi

Siapa yang tak butuh energi?

Pertumbuhan penduduk dunia yang semakin hari semakin berkembang berbanding terbalik dengan produksi sumber energi yang mereka butuhkan, padahal kebutuhan energi adalah penting bagi kelangsungan hidup dan mobilisasi umat manusia. Namun pada kenyataannya sumber energi yang berupa minyak bumi tidak dapat di perbaharui, ianya bersifat renewable sehingga diperlukan sumber alternatif di masa mendatang yang bersifat kontinue, aman bagi lingkungan, dan tentunya dengan harga yang terjangkau setiap lapisan masyarakat.

Beberapa negara sudah mulai menitikberatkan permasalahan ini. Eropa misalnya yang melakukan diversifikasi, atau Brazil yang mencapurkan bioethanol sebagai salah satu sumber energi yang berdampak dengan menurunya tingkat emisi CO2 sebesar 12 % ( Ribero dkk 1997). Kemandirian yang di capai beberapa negara tersebut tidak hanya berdampak bagi lingkungan dan kehidupan mereka sendiri, tetapi juga berdampak pada kekuatan ekonomi mereka di mata dunia, kenapa? Tentu saja, karena kalau ditanya, siapakah yang mampu menjawab tidak, untuk kebutuhan energi??

Bioethanol dan Biodiesel, Jawaban pasti akan krisis energi

Dengan bahasa yang mudah, bioethanol diartikan sebagai ethanol yang diproduksi dari tumbuhan, sedangkan biodiesel adalah minyak yang berasal dari tumbuhan. Kedua produk ini merupakan bahan bakar nabati yang telah teruji di beberapa negara dan juga di Indonesia sendiri, sebagai jawaban dari kekhawatiran akan hilangnya sumber energi fosil.

Bioethanol

Penggunaan bioethanol sebagai bahan bakar mulai diteliti dan diujicobakan sejak awal krisis itu dimulai yaitu sekitar tahun1970- an. Salah satu negara yang memiliki keseriusan yang cukup tinggi dalam hal ini adalah Brazil dimana pengembangan produk bioethanol mampu mencapai penggunaan hingga 40 % secara nasional

( Nature, 1 July 2005). Sedangkan di USA sendiri menggunakan 85 % campuran ethanol pada minyak bumi atau yang biasa di sebut E 85 ( Nature, 1 July 2005).)

Selama Indonesia sudah mengembangkan paduan antara premium dan bioethanol ini, perbandingan tersebut sejauh ini sedah mencapai 90:10 dan 70:30 dan baru diimplementasikan pada kendaraan jenis Blazer dan Honda Jazz.

Kalau memang terealisasi, maka bahan bakar B10 dan B30 ini akan berdampak luas bagi setiap lini kehidupan masyarakat di mulai dari menurunnya tingkat polusi udara hingga penghematan subsidi milyaran rupiah ( Merry Magdalena, Sinar Harapan).

Biodiesel

Biodiesel di definisikan sebagai metil ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan atau hewan dan memenuhi kwalitas untuk digunakan sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel (Vicente dkk 2006) sedangkan minyak yang didapat langsung dari pemerahan atau pengempaan biji sumber minyak (oil seed) yang kemudian disaring dan dikeringkan disebut minyak lemak mentah ( Soeradjaja, 2005)

Ada beberapa keuntungan bagi Indonesia jika melakukan pengembangan biodiesel, antara lain:

  1. Efisiensi penggunaan bahan bakar sehingga mengurangi beban pemerintah dalam hal import migas.
  2. Mengembangkan sektor agrobisnis sekaligus memberi nilai tambah bagi komoditas CPO termasuk pengembangan usaha industri yang terkait.
  3. Sangat di mungkinkan di masa mendatang biodiesel menjadi salah satu komoditas eksport Indonesia, dan tentunya hal ini merupakan angin segar bagi perekonomian Indonesia.

jika pemerintah mendukung berdirinya pabrik-pabrik bioethanol dan biodiesel, akan banyak lagi deretan dampak positif yang akan dituai dari program “energy from nature”.

Dibawah ini adalah beberapa table karakteristik perbandingan biodiesel dan solar, serta beberapa jenis tanaman sebagai sumber utama biodiesel pada beberapa negara.

Fisika Kimia

Biodiesel

Solar (petrodiesel)

Kelembaban %

0.1

0.3

Engine power

128.000 BTU

130.000 BTU

Engine Torque

sama

Sama

Modifikasi engine

Tidak diperlukan

Konsumsi bahan baker

sama

Sama

Lumbrikasi

Lebih tinggi

Lebih rendah

Emisi

CO rendah, total hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen

CO tinggi, total hidrokarbon, sulfur dioksida dan nitrooksida

Penanganan

Flammable lebih rendah

Flammable lebih tinggi

Lingkungan

Toxisitas rendah

Toxisitas 10 X lebih tinggi

Keberadaan

Terbarukan

Tak terbarukan

Sumber: CRE – ITB, Nov 2001

Negara

Bahan Baku Biodiesel

Eropa

Minyak repeseed

Amerika Serikat

Soy bean

Malaysia

Minyak kelapa sawit (CPO)

Hawai

Minyak goreng bekas

Filipina

Kelapa

 

Sumber : CRE-ITB, Nov 2001

 

Indonesia dan potensi sebagai produsen bioethanol

  1. Potensi Keanekaragaman Hayati

Sebagai negara yang beriklim tropis, Indonesia memiliki lebih banyak varietas untuk menghasilkan energi alternatif. Untuk bioethanol sebut saja tebu, jagung, singkong, ubi, dan sagu sedangkan sebagai sumber biodiesel antara lain jarak sawit, soybean dll.

  1. Potensi Lahan

Dengan iklim yang tropis maka hampir seluruh lahan di Indonesia mampu digunakan sebagai lahan pertanian, khususnya untuk beberapa item tanaman yang menghasilakn biofuel. Dibawah ini adalah luas lahan beberapa pulau besar di Indonesia

1. Sumatra = 473.606 Km persegi

2. Jawa = 132.107 Km persegi

3. Kalimantan = 539.460 Km persegi

4. Sulawesi = 189.126 Km persegi

5. Papua = 421981 Km persegi

Jika 5 – 10 % saja dari setiap pulau ini berfungsi sebagai lahan pertanian khusus tanaman biofuel maka di mungkinkan setiap daerah mampu mensubsidi bahan bakar di wilayah sendiri.

  1. Potensi Iklim

Kita semua tahu bahwa iklim di Indonesia sangat mendukung untuk dunia pertanian, namun permasalah yang selalu dihadapi adalah kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim penghujan, hal ini sesungguhnya bisa diatasi dengan sistem irigasi yang sudah ratusan tahun menjadi blue print penanggulangan masalah air, hanya mungkin diperlukan sistem yang lebih rinci

D. Potensi Manusia

Hampir 75 % penduduk di Indonesia berkisar antara 20-40 tahun, usia ini adalah usia produktif seseorang, ianya tersebar di setiap wilayah Indonesia. Bukan hal sulit rasanya menjadikan mereka lebih produktif.

Namun ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mewujutkan pabrik biofuel di Indonesia yaitu:

  1. Diperlukannya beberapa kajian terutama tentang formasi mesin yang akan menggunakan produk bioethanol dan biodiesel.
  2. Perlunya pengkajian tentang kwalitas tanaman, serta alternatif sebagai rotasi tanaman guna menghindari kejenuhan tanah, serta pengkajian tanaman yang cocok untuk wilayah tertentu karena bukan tidak mungkin singkong dan tebu yang cocok di tanam di wilayah Lampung akan cocok pula jika ditanam diwilayah Kepri atau Kalimantan.
  3. Perlunya pengkajian tentang produk samping, limbah, serta kemungkinan masalah yang akan dihadapi selama proses produksi.
  4. Perlunya pengkajian akan sistem manajemen serta dasar hukum dan sistem keuntungan yang akan diterima oleh kedua pihak yaitu petani dan pengelolah tampa ada yang merasa dirugikan di kemudian hari kelak.


Namun ada satu hal yang menarik ketika penulis membaca artikel dari ibu Merry Magdalena pada harian Sinar Harapan tentang pabrik bioethanol di Lampung, dimana hasil pabrik tersebut bukan untuk kepentingan dalam negeri melainkan diekspor ke Singapura dan Jepang. Sungguh suatu “PR” sendiri bagi kita semua tentang bagaimana sesungguhnya konsep kemandirian energi itu dapat kita capai dengan optimal.

Pustaka

Subur, suratin, R, Wayan “Pabrik Biodiesel Terintegrasi, Terobosan untuk Pengembangan Biodiesel” , www.ipart.com (2006)

Indarto Setyo Yuli, “Krisis Energi di Indonesia, mengapa dan harus bagaimana” www.beritaiptek.com

Windria,NH, “ Biodiesel alternatif Pendamping Solar “ BEI News edisi 12 tahun IV Desember 2002- Januari 2003

Soeradjaja, T H. , “ Energi alternatife Biodiesel 1 dan 2 “ www.kimia.lipi.co.id (2003)

www.litbang.deptan.go.id/berita/one/403

Republika “ Pengembangan Tanaman Biodiesel Mampu Menyerap Tenaga Kerja “ 27 Nov 2006

Merry Magdalena “ Mobil Bioethanol, kapan melaju massal di jalan raya” Sinar Harapan 22 Februari 2006.

Advertisements

6 responses »

  1. Salam..

    Saya seorang wiraswasta yang berdomisili di Aceh. Saat ini saya berencana ekspansi ke bidang usaha pertanian. Saya sangat tertarik dengan tulisan mbak Rahma mengenai energi alternatif. Dimana saya bisa mendapatkan informasi lengkap mengenai pengembangan usaha pertanian yang berorientasi Biofuel ( Bioethanol ) seperti budget usaha, pendirian pabrik, pegolahan, serta pendistribusiannya, mengingat minimnya informasi yang saya dapatkan selama ini.

    Terima Kasih,

    Zulham.

  2. ehmm pertanyaan bapak sangat menarik sekali… tapi sayang saya tidak dapat memberi jawaban yang memuaskan, mungkin saya cuma bisa carikan info dulu dari teman-teman yang lain.. ehmm rasanya menarik juga kalau di wilayah pesisir aceh di jadikan hutan jarak, jadi bisa di manfaatkan hasil nya untuk biofuel.. he.he..
    btw makasih udah mampir ke blog saya.. lam kenal ya..

  3. permisi..

    Bahan baku biodiesel bahkan FAME u/ biodiesel harganya lebih menarik untuk dijual ke luar negeri, beta carotene dari CPO kelapa sawit diekstraksi di luar negeri sebelum dijadikan bahan baku biodiesel. (Nilai tambah dan harga lebih besar di luar negeri). Saat ini secara nggak langsung indonesia sudah ekspor biodiesel walaupun dari bahan bakunya. Lha FAME-nya yang lebih mahal dari CPO diimpor lagi ke Indonesia, jadi kita mengurangi impor minyak bumi, dan mengimpor FAME yang lebih mahal dari crude oil (‘cape deh..). Senangnya jadi pengusaha BBM Fosil/nabati… Transfer pricing bisa terjadi.. menggiurkan..

    tanaman jarak juga perlu pemeliharaan dan nutrisi untuk menghasilkan jarak yang berkualitas, dan nggak asal nancep –> berbuah
    Balance of energy antara menanam + mengolah jarak + energi yang dipakai untuk transport dan menjual kayaknya lebih besar daripada output energi dari minyak jarak itu sendiri dengan skala produksi saat ini… lha untungnya dimana?
    Penanaman jatropha juga sekarang cenderung sporadis, lha pabrik pengolahnya harus ikutan sporadis juga? nggak mungkin kan?

    siapa yang mau investasi ngolah biji jarak? yang mau beli minyak jaraknya siapa? euforia biji jarak kemarin hanya sebatas pembibitan karena mulai adanya program BBN (bahan bakar nabati), bukan definit sebagai kandidat bahan bakar.

    Apa pertamina masih mau (sanggup) beli bahan baku biodiesel baik dari kelapa sawit/jarak? sampai kapan? margin keuntungan pertamina berapa/kilo liter?

    pemerintah mau meregulasi apa dan siapa (departemen mana) yang meregulasi? Apa Tim nasional BBN? marketnya biodiesel dari hulu hingga hilir saja belum jelas secara pasti siapa pelaku, besaran, dan distribusinya.. seberapa jauh kesanggupan pemerintah pusat&daerah mendanai program BBN?

    tebu, jagung, singkong, ubi, dan sagu untuk ethanol.. apakah manusia Indonesia siap merelakan bahan pangan menjadi bahan bakar?

    jangan diadu antara ketahanan energi dan ketahanan pangan.. semua penting.. tapi daya tarik ekonomi akan menentukan sendiri neraca energi vs pangan. (bisa ditebak dengan mudah, pilih mana, jual makanan vs energi yang untungnya lebih tinggi)

    Bukan ber buruk sangka, bukan negative thinking, hanya menambah PR para pemikir Indonesia.. hehe..

    Di dunia secara teknologi BBN sudah teruji dan terukur, di Indonesia secara ekonomi? sosial? bagaimana? ada yang bisa nanggapi?

  4. dear hertiyo..
    senangnya di kritisi…iya nich siapa kah yang bisa mengkritisi masalah ini, tulisan di atas hanya sebagai wacana, tapi kalau kita ga pernah mencoba dan mencari solusinya sampai kapan kita bergantung sama minyak bumi yang ga bisa diperbaharui dan pasti merusak lingkungan, ketika menemukan suatu masalah yang kita cari solusinya bukan malah menghindar dan menyerah begitu saja, atau mementahkan niat baik. dengan kapasitas saya yang segini adanya ya saya hanya bisa bermimpi seperti ini, tapi saya yakin teman-teman yang mempunyai kpasitas jauh diatas saya pasti punya solusinya atau mungkin saudara hertiyo bisa menjawab solusinya.. di tunggu 🙂

  5. Energi Alternatif di Indonesia memang pelik… apalagi biofuel yang di depan mata (bahan baku, teknologi, pasar: ketiganya sudah ada).. tapi susah betul menjadi suatu komoditi energi yang ‘affordable’ khususnya untuk masyarakat yang berdaya beli rendah.
    Sedih memang melihat paradigma yang ada dalam wacana tsb.. tapi bagus juga mbak Dewod sudah mengemukakan tulisan sebagai ‘reminder positif’ bagi pemerhati dan pekerja energi di Indonesia, agar jangan menyerah atau menghindar…

    Indonesia sudah mulai beranjak dari sekedar wacana ke upaya, mudah2an segera terwujudkan mimpi yang namanya ‘renewable dominated energy mix’
    Banyak kawan-kawan peneliti dari LEMIGAS, P3TKEBT, Deptan, PPKS Medan, BPPT, dll yang menggeluti biofuel sejak tahun ’70an dan secara teknologi boleh dikata kita ‘siap’.
    BERSAMA KITA BISA!!

  6. Ada yang punya info aktivitas biofuel PT Pura Barutama dan MEDCO? in the future kayaknya mereka yang ‘real player’ di bidang biofuel..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s