Monthly Archives: May 2008

Bencana Alam dan Krisis Air Tanah

Standard

Bencana Alam dan Krisis Air Tanah,

Dampak Pasti menggadai Hutan

oleh : Rahma dewi

Sekolah Global Indo-Asia Batam Centre

Email: rahmadewi@kamusilmiah.com

Rasanya bukan hal yang baru dan aneh jika kita berbicara tentang dampak pasti kerusakan hutan, mulai dari banjir, kekeringan, rusaknya ekosistem, dan krisis air tanah, belum lagi dampak sosial dan psikologi masyarakat, hingga carut marutnya perekonomian rakyat kecil yang bergantung dengan hasil hutan. Namun anehnya proses perbaikan dan penanggulangan akibat kerusakan hutan belum ada langkah nyata dari pemerintah, justru yang terjadi sebaliknya dari butir-butir peraturan yang dicetuskan presiden melalui UU PP no 2/ 2008, terlihat jelas dari sistem dan harga sewa bahwa pemerintah secara tak langsung menggadai hutan dengan dalih kepentingan Negara. Padahal, entah siapa dibalik semua ini.

Bank dunia melaporkan bahwa hutan Indonesia menyusut sebesar 3,6 juta HA pertahun (Republika (4/7/05), korelasi yang sama dengan tiga kali luas lapangan sepakbola perduabelas detik. Data tersebut mungkin diambil berdasarkan praktek legal yang terdaftar, belum lagi prakter illegal yang kerap terjadi dan hasilnya diseludupkan ke luar negeri, lagi-lagi sistem hukum Negara ini yang berperan besar mengancurkan hutannya sendiri, yang juga berarti menghancurkan negaranya sendiri, menghancurkan kekayaan bangsa, menghancurkan sumber keanekaragaman hayati, membantu pengerusakan paru-paru dunia, membantu pemanasan global, membantu berkurangnya jumlah daratan di Indonesia, dan banyak lagi hal buruk yang akan terjadi, semuanya hanya karena kepentingan pribadi segelintir pihak yang nantinya akan lepas tangan jika terjadi bencana di negeri ini. Hanya dua hal yang saya bahas dibawah ini diharapkan menjadi pemikiran panjang para kaum birokrat untuk menelaaah lebih lanjut tentang UU PP no 2 yang telah di sahkan.

1. Bencana alam ( banjir, tanah longsor, kekeringan, dan cuaca buruk)

Masih ingat dengan jelas kesengsaraan rakyat ketika banjir mengelilingi pulau Jawa beberapa waktu lalu, Sejak tahun 1998-2003 terdapat 2022 korban jiwa dan milayaran kerugian yang diderita masyarakat semuanya akibat banjir dan longsor hanya sebagaian kecil yang disebabkan oleh angin topan dan badai, masalah terburuk ditimbulkan oleh banjir. (Bakornas, penanggulanggan bencana 2003) Fenomena banjir bandang dan tanah longsor adalah suatu fenomena  alam yang jamak di muka bumi ini. Secara umum, ketika  sebuah sistem aliran sungai yang memiliki tingkat kemiringan (gradien) sungai yang relatif tinggi (lebih  dari 30% atau lebih dari 27 derajat) apabila di bagian hulunya terjadi hujan yang cukup lebat, maka potensi terjadinya banjir bandang  relatif tinggi. Tingkat kemiringan sungai yang relatif curam ini dapat dikatakan sebagai faktor “bakat” atau bawaan.  Sedangkan curah hujan adalah salah satu faktor pemicu saja (http://www.walhi.or.id). Belum lagi wabah penyakit, krisis pangan dan gizi buruk. Berapa nilai kas Negara yang harus alokasikan untuk membantu masyarakat ketika itu, walau kenyataan nya bantuan itu pun belum cukup membantu masyarakat terutama di daerah yang terpelosok mengingat infrastruktur negeri kita dan masalah lain yang kerap menjadi alasan. Bayangkan apakah semua ini dapat diganti dengan harga sewa hutan yang demikian murah, hanya Rp 300 /meter apakah balance dengan pajak yang dibayar perusahaan tambang dan minyak yang selama ini masih di beri kesempatan dengan dalih kesejahteraan rakyat sekitar, berapa persen penduduk lokal yang menjadi karyawan di perusahaan tersebut? Kalau pun ada ianya hanya menjadi alas kaki karena keterbatasan pendidikan dan keterampilan, dilematis memang tapi pastinya pemerintah memiliki solusi dengan memberdayakan kaum intelektual negeri ini yang masih tertidur pulas, dari pada mengamini ide-ide pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Masih banyak hal yang bisa di berdayakan selain menjual hutan dan mengekspoitasinya kepada pihak asing.

Di bawah ini adalah tabel bencana alam dan jumlah kerugian yang dialami.

Bencana Alam di Indonesia (1998-2003)

Jenis

Jumlah Kejadian

Korban Jiwa

Kerugian (juta rupiah)

Banjir

302

1066

191.312

Longsor

245

645

13.928

Gempa bumi

38

306

100.000

Gunung berapi

16

2

n.a

Angin topan

46

3

4.015

Jumlah

647

2022

Sumber: Bakornas PB.

2. Berkurangnya sumber air tanah,

Hutan adalah sistem komplek ekstraksi dalam proses memproduksi air tanah, yang mutlak diperlukan oleh masyarakat, siapa di bumi ini yang tidak butuh air bersih, dengan tingkat pendapatan masyarakat yang masih rendah masih tegakah kita menggadai hutan dengan resiko hilangnya sumber air tanah gratis bagi masyarakat sekitar, apakah kita harus membiarkan rakyat miskin membeli sesuatu yang seharusnya bisa mereka peroleh dengan percuma ditengah krisis ekonomi yang masih menjadi gurita bagi bangsa kita?.

Kerusakan hutan hanya akan memperkaya para produsen air kemasan yang harganya selangit bermodal alat filtrasi dan iming-iming ozonisasi dan sebagainya. Bagaimana kita melihat perspektif ekonomi masyarakat disaat sebagian penghasilan mereka harus dialokasikan demi sejumlah air bersih, padahal disisi lain dana pendidikan dan pemenuhan gizi juga merupakan point penting dalam kalkulasi biaya hidup masyarakat.

Lagi-lagi suatu harga yang mahal untuk dibayar oleh masyarakat kita akibat rusaknya sumber air tanah, belum lagi mimpi buruk bangsa ini tentang generasi yang tingkat pendidikanya rendah serta masalah gizi buruk anak-anak kita, mau dibawa kemana bangsa ini? Seimbangkah sistem sewa hutan dengan harga mimpi buruk diatas?

Dibutuhkan ketegasan dan niat baik pemerintah dalam mengatasi masalah ini dan tentunya dorongan seluruh elemen masyarakat untuk peduli dengan tanah air nya sendiri, jangan biarkan bangsa ini menjadi importer air bersih di sepuluh tahun mendatang dari negeri jiran karena kebodohan dan ketamakan, air itu emas biru yang dibutuhkan semua orang jauh lebih berharga dari pada emas hitam dan kuning, mari selamatkan hutan kita, selamatkan generasi kita.

Advertisements