Monthly Archives: January 2009

Standard

“Sedekah” cara mudah membeli surga

solusi masalah dunia

(resume dari buku “Siapa membeli surga”)

Istilah sedekah, infak, zakat bukan lagi hal yang baru dalam kehidupan seorang muslim, namun seiring berjalannya waktu, terkadang kita perlu menelaah kembali keutamaan –keutamaan yang akan di dapatkan oleh seorang muslim jika melaksanakan perintah allah swt ini yang selalu beriringan dengan perintah sholat, agar semangat bersedekah akan menjadi suatu budaya yang di minati semua muslim.

Ada seuntai perkataan indah dari abu Hurairah ra. yang menjelaskan tentang sisi kehidupan “Dzun Nurain Utsman bin Affan ra.” di mana Abu Hurairah berkata “ Ustman telah membeli surga dari Nabi saw sebanyak dua kali..

Lalu para sahabat bertanya “dengan apa Ustman membeli surga ??”

Lalu Rasulullah saw berkata “ ada banyak cara untuk kita membeli surga  beberapa di antaranya adalah :

Sholat dua rakaat di tengah malam yang khusuk.

Berbicara hanya dengan kata-kata yang benar dan mencegah orang berbuat dzalim dan menolong orang  dari kedzaliman orang lain.

Berpuasa dengan tengah terik matahari yang panas.

Memberi senyuman yang tulus kepada setiap orang.

Usapan telapak tangan yang penuh kasih sayang kepada seorang anak yatim.

Namun apakah cara yang dilakukan Ustman untuk membeli surga?? Ternyata utsman  telah membeli mata air tawar untuk kaum muslimin dan membiayai pasukan perang pada saat perang “tabuk”. Saudara ku Ustman telah membeli surga dengan menyedekahkan sebagian hartanya sehingga menjadikannya begitu istimewa sepanjang hidupnya.

Dan itu adalah bentuk nyata dari istilah sedekah, yaitu ketika  kita memberikan harta kita iklas karena allah swt untuk kepentingan umat dan orang lain yang membutuhkan, bukankan Allah swt maha membalas? Bukan kan setiap kebaikan akan di balas  sepuluh kali lipat dan setiap kejahatan akan dibalas dengan kejahatan  juga?

Oleh sebab itu saudara ku jangan ragu untuk membeli surga allah dengan harta yang kita miliki, karena kesudahannya semua akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat-lipat di dunia dan diakhirat.

Lalu bagaimana caranya agar hati kita selalu lurus dan iklas akan setiap sen harta yang telah kita sedekahkan??

  1. Menyadari bahwa balasannya adalah surga

Dalam surat Ali imran ayat 133 yang artinya “ Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari rabb-mu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkannya (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”

Janji allah adalah pasti, dan dari ayat diatas disebutkan bahwa sifat orang yang bertakwa adalah yang menyedekahkan sebagian hartanya baik diwaktu lapang mau pun sempit. Ibnu “Katsir”ra berkata “ bahwa kesadaran kita berinfak tidak membuat seseorang tergantung pada keadaan yang sedang dialami orang  tersebut, baik dalam keadaan susah, sulit, atau senang, dalam keadaan cukup atau dalam keadaan sempit, karena dengan kita memahami konsep keiklasan, maka kondisi apa pun tidak akan menyurutkan langkah kita untuk menginfakkan sebagian harta kita di jalan allah swt karena kita yakin bahwa allah swt adalah zat yang maha mengetahui, maha pengasih dan maha penyanyang yang sudah pasti membalas semua perbuatan walau hanya sebesar biji “dzarah”(sawi). Dan sudah pasti Surga adalah balasan pasti akan sedekah yang hanya karena mengharap ridho allah swt.

  1. Perintah yang selalu beriringan dengan perintah sholat

Dalam surat  Al-ma’arij (22-25) yang artinya berbunyi “ Kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang mereka tetap mengerjakan shalat, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa ( yang tidak mau meminta) .”

Dari penggalan ayat di atas, allah swt mensejajarkan kewajiban zakat yang sejajar dengan kewajiban shalat, sedangkan kita semua tahu bahwa shalat adalah tiang agama, maka zakat juga merupakan salah satu indicator pribadi seorang muslim dan umat.

  1. “Siapa yang pernah tau kapan ajal menjemput”

Saudara ku, siapakah yang pernah tau ajal akan menjemput?? Siapa kah yang bisa mengira nasip kan berubah? Oleh sebab itu kalimat di atas adalah kalimat yang akan memotivasi seseorang untuk jangan pernah menunda-nunda zakat, karena setan akan selalu memperdaya manusia bukan untuk tidak membayar zakat tapi mereka memperdaya manusia dengan membisikkan hati kita dengan kalimat menunda contohnya” infakkan besok atau lusa saja”, atau “nanti saja sesudah kau beli ini dan itu” atau hal-hal dunia lain nya yang membuat kita terlena hingga tiba-tiba ajal merengut kita.

  1. Allah menggantinya dengan kelipatan hingga 700 kali lipat bukan hanya 10 kali.

Ada sebuah kisah tentang seorang sahabat yaitu Ali bin Abi Thalib yang pada suatu hari menyedekahkan sebutir buah apple kepada seorang pengemis, tak lama kemudian Ali ra pun kembali ke rumah, tak lama berselang pintu rumah ali pun diketuk oleh pembantu salah seorang tetangga nya yang akan memberikan hadiah beberapa butir apple hasil panen sang tuan. Seketika Ali ra pun membuka pintu dan menyambut tamunya, sang tamu pun memberi sekeranjang apple kepada Ali ra. Dan Ali pun menghitungnya ternyata jumlah buah apple tersebut sembilan butir, saidina Ali pun mengembalikkan sekeranjang apple tersebut kepada  tamunya dan dia berkata “ maaf ini bukan punya ku..” tamunya tersentak dia berkata “wahai Ali, tuan ku yang menyuruh ku ke sini, dia tak mungkin salah dan aku tak mungkin berbohong”  namun ali berkata “Kalau memang ini punya ku maka jumlahnya bukan sembilan, tapi sepuluh”, lalu  sang tabmu pun berkata “engkau benar wahai Ali”, seraya mengambil sebutir lagi buah apple yang disimpannya di balik jubahnya dan berkata “dari mana kau bisa menebak kalau aku menyembunyikannya?? Dan saidina Ali pun berkata “ Aku baru saja menyedekahkan satu butir apple kepada seorang pengemis di pasar, dan allah berfirman akan mengganti setiap sedekah sebanyak 10 kali lipat atau lebih, dan allah adalah zat yang maha benar maka aku yakin jumlahnya sepuluh.

Kisah diatas hanya sebagian kecil dari kisah nyata yang terdapat dalam sirah sahabat nabi, namun dalam kisah nyata kehidupan saat ini banyak teman-teman yang telah membuktikan keajaiban sedekah, karena memang sedekah juga bermanfaat untuk hal-hal lain seperti menyembuhkan penyakit, melindungi sebuah rumah tangga dari perpecahan, melindungi diri dari musibah dan takdir yang buruk, selain mendatang kan reseki itu sendiri dari jalan lain yang tak terduga. Lalu apakah itu berarti kita tidak iklas dengan setiap sedekah kita jika kita mengharapkan manfaat-manfaat tersebut?? Tentu jawab tidak, karena bukankan kita mengharapkannya dari allah?? Bukankan allah suka jika hambanya meminta kepadanya ? berharap hanya kepada nya?.  Saudara ku setelah bersedekah, iklaskan hati kita, dan lupakan apa yang telah kita berikan lalu berharaplah hanya kepada allah swt zat yang maha kaya , yang maha menggantikan. Pasrahkan semua kepada allah swt dan tunggulah keajaibanya yang datang mengiringi hidup anda.

Manusia beranggapan bahwa harta adalah sarana memenuhi kebutuhan dan kesulitan hidupnya. Oleh sebab itu sangat manusiawi jika manusia mencintai hartanya  di saat manusia membutuhkan sesuatu maka ia ingin dengan mudah mendapatkannya dan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga yang dibawah tanggung jawabnya. Allah swt sangat memahami fitrah manusia yang satu ini, oleh sebab itu diajarkannya kepada kita semua untuk berinfak dan bersedekah , karena nanti dialah yang akan mengatur ganti nya, mengapa kita tidak mempercayainya? Apakah kita tidak mengenalnya ? sesungguhnya allah swt adalah penguasa langit dan bumi yang mengatur dan menjamin kehidupan setiap makhluknya, mana yang lebih baik kita sebagai manusia yang mengatur hidup dan rezeki kita atau allah swt yang  mengatur seluruh kehidupan kita..bukan kan allah swt maha pengasih? Maha penyayang?..serahkan semua urusan dunia kepada allah, maka yakinlah tidak ada yang tidak mungkin dalam hiudp ini.

Dalam alquran allah sudah berjanji akan mengganti apa saja yang kita infak kan, janji allah ini terdapat dlam surat “Saba 39” yang artinya “  “ katakanlah sesungguhnya Rabb ku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-nya di antara hamba-hambanya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendakinya pula. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka allah akan menggantinya dan dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya “

Ya dialah allah swt yang maha mengganti, yang maha kaya lagi maha mengetahui.

  1. Ancaman bagi yang enggan berinfak, bersedekah.

Dalam hal ini ada beberapa kriteria dari orang-orang yang tidak mau membayar zakat :
1. Seorang yang tidak mau membayar zakat tapi masih meyakini akan wajibnya.
Para ulama menghukumi bahwa pelakunya berdosa dan tidak mengeluarkannya dari keislamannya. Kepada penguasa (hakim) agar memaksa pelakunya supaya mau membayar zakat serta memberikan hukuman pelajaran kepadanya (tahdzir). Dan mengambil hak zakat dari orang tersebut sesuai dengan kewajibannya, tidak boleh lebih. Kecuali pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Syafi’i (pendapat lama) maka mengambilnya separuh dari hartanya sebagai hukuman baginya. Sebagaimana hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “… Dan barang siapa yang tidak mau menunaikannya (zakat) maka kami akan mengambilnya dan separuh hartanya adalah hak dari hak-hak wajib bagi Tuhan kami, tidak halal bagi keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam darinya sedikitpun.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Hakim, Baihaqi dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya).

Adapun Ibnu Taimiyah menghukumi orang yang seperti itu adalah kafir dalam batinnya, walaupun secara dzahir tidak dikafirkan, akan tetapi disikapi seperti sikapnya orang-orang murtad yang diberi kesempatan bertaubat tiga kali, kalau tidak mau bertaubat maka hukumnya dibunuh. (lihat Fatawa 7:611, mausu’ah Fiqh Ibnu Taimiyah 2:877; Mughni 4:67; majalah Buhuts Islamiyah Darul ifla’ edisi 58 tahun 1420H hal. 11; Fiqh Sunnah 1:403)

2. Kalau yang tidak mau membayar zakat itu sekelompok orang yang mereka memiliki kekuatan tapi masih berkeyakinan akan wajibnya.
Para ulama menghukumi agar diperangi sampai mereka mau membayar zakat sebagaimana kisahnya Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. (HR. Jama’ah dari Abu Hurairah)
Juga haditsnya Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat, maka kalau mereka telah mengerjakannya terjagalah dari darah dan harta mereka kecuali haknya Islam dan hisab mereka di sisi Allah.”
(HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak mau membayar zakat dengan mengingkari akan wajibnya.
Berkata Ibnu Qudamah : “Barang siapa yang mengingkari karena jahil (tidak tahu) atau dia termasuk orang yang tidak tahu karena baru masuk Islam atau dia tinggal di daerah terpencil yang jauh dari daerah yang mengetahui akan wajibnya maka tidak dikafirkan. Adapun kalau dia seorang muslim yang tinggal di negeri Islam di tengah-tengah ahli ilmu maka hukumnya murtad.”
(Mughni 4:6-7)

Sumber:  www.salafy.or.id