Monthly Archives: March 2010

Frookie si Kodok Iklas

Standard

Suatu ketika di hutan yang damai di adakan perlombaan memanjat tebing khusus untuk anak kodok. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya
tersisa beberapa ekor kodok sekarang dan mereka mempersiapkan diri dengan memakan makanan yang sehat serta latihan teratur dan disiplin .

Semuanya nya berusaha sebaik mungkin, namun ada seorang anak kodok yang sangat kecil dan kurus namanya “Frookie”.banyak orang yang sangsi dengan kemampuannya.

Namun dia tetap pede dan bersemangat

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan lomba memanjat tebing.
Setiap anak kodok mulai bersiap di garis start begitu juga “Frookie”, untuk melompat sekuat mungkin. Setiap anak kodok memiliki lintasan masing-masing.
Namun, sesaat sebelum mulai, Frookie  meminta waktu sebentar untuk berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup
memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!”.

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat,
mereka mulai melompat  sekuat-kuatnya.

Setiap penghuni hutan bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan jagoannya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat..cepat,
lompat-lompat”, begitu teriak mereka.

Ahha…sang pemenang harus ditentukan, puncak tebing sudah hamper dekat.
Dan, Frookie lah pemenangnya.

Ya,semuanya senang, begitu juga “Frookie”. Ia berucap, dan berkomat-kamit
lagi dalam hati. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”

Saat pembagian piala tiba. “Frookie” maju ke depan dengan bangga.

Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.

“Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah swt agar kamu menang,
bukan?”. Frookie terdiam. “Bukan, Pak , bukan itu yang aku panjatkan” kata Frookie.
Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah swt
untuk menolongmu mengalahkan saudaramu yang lain.
“Aku, hanya bermohon pada Allah swt, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.”
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh para penghuni hutan  bertepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Note : Di modifikasi dari kisah Ahmad dan lomba balap mobil, ga tau dari mana, yang pasti dapet dari temen he.he..

Advertisements

Kisah Dua Saudara

Standard

Kisah 2 Saudara


”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(QS, al-Hujurat [49]: 13)

Dua orang laki-laki bersaudara . Mereka sudah yatim piatu sejak remaja. Keduanya bekerja pada sebuah pabrik kecap .

Mereka hidup rukun , dan sama-sama tekun belajar agama. Mereka berusaha mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari semaksimal mungkin.

Untuk datang ke tempat pengajian, mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah Sang Ustadz. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah mengabulkannya, jabatannya naik, dia menjadi kepercayaan sang direktur. Dan tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki. Dia mendapatkan bonus karena omzet perusahaannya naik.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan Kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan kaki untuk mengaji kerumah guru mereka.

Suatu saat sang Kakak merenungkan dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a.

Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan hatinya, ” Dik, sesungguh ketidak mampuan kita menghapal quran, hadits dan bacaan doa. bisa jadi karena hati kita kurang bersih.. “

Sang adik Mengangguk, hatinya terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak merasa sedih karena sampai meninggalnya adiknya itu tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya Al-fatehah, Shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a selamat dan ada kalimah di akhir do’anya:

“Ya, Allah. tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Mu,
Ampunilah aku dan kakak ku, kabulkanlah segala do’a kakak ku,
Jadikan Kakakku selalu dalam lindungan dan cinta-Mu,
Bersihkanlah hati ku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku
didunia dan akhirat.”

Sang Kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya.Dia telah salah menilai adiknya. Tak dinyana ternyata adiknya tak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya.

Kekayaan, kemiskinan, kebaikan, keburukan dan setiap musibah yang menimpa manusia merupakan ujian dari Allah swt. yang diberikan kepada hambanya. Itu bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan seseorang. Janganlah bangga karena kekayaan dan janganlah putus asa karena kemiskinan..

Cerita ini begitu menyentuh , semoga dapat menjadikan hikmah bagi kita semua …

Sumber : Ispiring Stories II @Cyber Halaqoh  “Lailla Nurul Muna Di Discussion Board KKH 2”